Gramedia Pustaka Utama

May 16

Novel Pilihan Pekan Ini: Premortem & Maharani Wu

“Cinta bisa dibangun dari kepercayaan, tapi kepercayaan tidak bisa dibangun hanya berdasarkan cinta.” —

One Last Chance ~ Stephanie Zen

May 15

[Resensi Pilihan] Putri Raja Cilik ‘A Little Princess’ - Frances Hodgson Burnett

Oleh: Anita Amaliyah (http://strawberrydreamy.blogspot.com/2012/04/book-little-princess.html)

Buku ini sangat menarik perhatian. Bukan hanya karena cover dan sinopsisnya yang menarik. Penulisnya pun menulis buku ini dengan cara yang berbeda. Membuat para pembaca tenggelam dalam imajinasi yang dibangun oleh sang penulis. Dan ternyata novel satu ini bukanlah novel baru, novel ini pertama kali terbit tahun 1905 dan dapat dikategorikan sebagai novel sastra. Ditambah lagi, buku ini ternyata sudah difilmkan dengan judul yang sama.

Novel ini bercerita tentang kisah hidup Sara Crewe, seorang gadis cantik berdarah Eropa tapi terlahir di India. Ayahnya, Kapten Crewe, adalah seorang pengusaha sukses di India. Masa kecil Sara dihabiskan dengan gaun-gaun indah, topi-topi bulu yang cantik, dan segunung mainan yang diinginkan oleh semua anak perempuan. Sara adalah anak piatu, ibunya meninggal sesaat setelah melahirkan Sara, tidak heran kalau kemudian ayahnya sangat memanjakannya. Tetapi Sara tidak seperti anak-anak yang lainnya. Sara adalah seorang anak kecil yang terkadang berpikiran terlalu dewasa. Ia sangat senang membaca buku, buku apapun—dongeng, Revolusi Prancis (dalam bahasa Prancis), dan banyak buku lainnya. Kegemarannya yang lain adalah berimajinasi, membayangkan bahwa ia adalah seorang putri raja—dan karenanya, ia harus bersikap seperti putri raja.

Pada usia 7 tahun kehidupan Sara pun mengalami perubahan, dari India menuju ke London. Ia disekolahkan oleh ayahnya di sebuah asrama sekolah khusus untuk orang-orang terpandang. Miss Minchin, si pemilik sekolah yang serakah dan gila harta sangat menganakemaskan Sara karena kekayaan ayah Sara, terutama setelah melihat bagaimana ayah Sara sangat memanjakan anaknya dengan kekayaan miliknya. Awalnya, kehidupan Sara berjalan baik-baik saja di sekolah itu, karena ia anak yang ramah dan pandai bercerita. Ia bercerita seolah sesuatu benar-benar terjadi, membuat siapapun yang mendengarnya terpesona dan ingin mendengarkan ceritanya sampai habis.

Hingga suatu hari, kehidupan Sara berubah seratus persen. Ayahnya meninggal dan sama sekali tidak meninggalkan warisan sepeser pun bagi Sara, si gadis cilik yang malang. Miss Minchin pun memperlakukannya dengan sangat tidak baik, Ia menjadikan Sara salah satu pelayan yang selalu disuruh untuk melakukan segala hal. Tapi Sara tidak pernah berubah, ia masih sama, Sara yang selalu membayangkan dirinya adalah seorang putri raja dan selalu bisa menghidupkan imajinasinya. Temannya kini hanya Ermengarde—seorang anak yang lamban dan montok, Lottie—anak kecil berumur 6 tahun (keduanya murid di sekolah itu, mereka sering mengunjungi Sara diam-diam di biliknya, tanpa sepengetahuan Miss Minchin), dan Becky—pembantu sekolah yang malang.


Buku A Little Princess ini sebenarnya sangat cocok menjadi bacaan para gadis cilik, imajinatif dan ekspresif dengan ending yang tidak mengecewakan. Kisah Sara Crewe seakan membawa alam pikiran kita ke suasana kota London era Victoria di musim dingin pada beberapa bagian. Ada pula beberapa bagian yang akan membuat pembaca menjadi terharu akan ketegaran, kesabaran, ketulusan, dan keberanian seorang Sara Crewe.

Buku ini juga adalah sebuah buku yang sangat inspiratif. Hal ini terbukti dengan dibuatnya beberapa film yang berdasarkan cerita dari novel ini sejak tahun 1917. Belum lagi serentetan drama musikal dan serial TV. Bahkan dua dari serial TV yang mengangkat kisah Sara Crewe adalah anime (kartun Jepang) yang ditayangkan pada tahun 2006 (Sōkō no Strain) dan pada tahun 2009 (Shōkōjo Seira). Terbukti, kehidupan Sara Crewe sudah menginspirasi banyak orang di berbagai belahan dunia lewat kisah hidupnya, yang meskipun hanyalah sebuah fiktif, tapi terasa sangat nyata dan sangat inspirable bagi banyak orang. Frances Hodgson Burnett sukses menelurkan imajinasinya tentang sosok seorang putri yang semestinya pada sosok Sara Crewe.

Sosok Sara Crewe seakan menjadi cerminan bagi kesempurnaan sosok gadis kecil yang pantas untuk dijadikan panutan. Makanya, aku pikir buku ini adalah salah satu buku yang bagus untuk menjadi bahan bacaan para gadis cilik yang bermimpi menjadi seorang putri raja, maupun para remaja perempuan dan wanita dewasa yang ingin mencari panutan dalam hal bersikap, karena semua perempuan pasti pernah bermimpi untuk menjadi seorang putri. Sara Crewe teaches every girl in the world that to be a Princess you don’t need to be a King’s daughter, because it depends on how you think and how you behave.


Judul : Putri Raja Cilik (A Little Princess)
Pengarang : Frances Hodgson Burnett
Tahun Terbit : November 2010
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Hal : 312 halaman
Kategori : Fiksi, Novel

“Jangan menyerah dulu! Kau mungkin hanya kurang 11 langkah atau 11 menit dari yg kau impikan!” —

Membuka Mata ~ Peri Farouk

May 14

“Memberi suatu keterampilan kepada anak lebih baik daripada memberi seribu keping emas.” —

Chicken Soup for the Soul: Kasih Sayang Keluarga ~ Jack Canfield, dkk.

May 11

“Aku yakin pada kekuatan cinta kita. Untuk itu aku kembali.” 20,30,40 Club Camilan” —

May 10

“Aku tak pernah takut mati karena berulang kali telah melihatnya dari dekat.” —

Paulo Coelho: Obrolan Dengan Sang Penziarah - Juan Arias

May 09

“Mungkin kau merasa tak punya pilihan, padahal kau punya. Kau selalu punya pilihan.” Laura Fitzgerald - Veil of Roses (Kerudung Merah)” —

May 08

[Resensi Pilihan] Setelah Dia Pergi ‘Where She Went’ - Gayle Forman

Oleh: Ayu Sri Lestari (http://www.goodreads.com/review/show/300248733)

Pagi itu, Adam Wilde, bangun dengan perasaan yang campur aduk. Ia terpaksa harus menjalani wawancara pribadi dengan seorang wartawan dari majalah terkemuka dari New York, ia harus membuat rekaman ulang lagunya sendirian tanpa ditemani anggota band-nya yang lain, dan harus mengejar penerbangan berikutnya ke London untuk menjalani serangkaian tur promo untuk album bandnya yang sudah meraih dobel platinum di mana-mana.

Tiga tahun setelah Mia mengalami kecelakaan mengenaskan yang menewaskan Kat dan Denny, ibu dan ayah Mia, dan merenggut adiknya Teddy, banyak kejadian-kejadian yang dialami Adam. Mia meninggalkan Oregon dan diterima oleh Julliard sebagai musisi berbakat; Mia yang akhirnya memutuskan hubungan mereka tanpa memberikan alasan apapun; Adam sendiri yang saking frustasinya oleh Mia menarik diri dari band-nya, yang saat itu masih merupakan band indie dan sudah memiliki banyak fans dari universitas-universitas lainnya; Adam yang frustasi akhirnya ikut bekerja di pabrik bersama ayahnya; ia menciptakan 10 lagu dalam beberapa hari saja dan akhirnya mengantarkan bandnya, Shooting Star, sebagai fenomena terbaru di kalangan anak muda.

Sekarang Adam berdiri di depan Carniege Hall memandangi poster musisi muda yang wajah dan sorot matanya begitu ia kenal yang bahkan dalam tiga tahun belakangan seperti tidak ada yang berubah, musisi yang memeluk cello dalam posternya, itu Mia Hall dalam poster yang dipasang gede-gedean di depan gedung Carniege Hall di mana banyak orang berpakaian necis berlalu lalang untuk mendapatkan tiket konser pertunjukannya. Tak ayal, Adam pun segera menuju ticket-box dan membeli satu tiket untuk mendapatkan tempat duduk sisa dan mendengarkan permainan cello Mia Hall yang sudah tak didengarnya tiga tahun belakangan ini.

Setelah pertunjukkan, tak disangka Adam, ternyata Mia memanggilnya ke belakang panggung. Mia yang setelah konser akan langsung bertolak ke Jepang untuk konser-konser mengagumkan lainnya mengajak Adam mengelilingi kota New York. Mereka berputar-putar berkeliling New York, makan malam di kedai yang sepi, naik kereta bawah tanah saat dini hari—dan Adam hampir dikerubungi oleh penggemar-penggemarnya, berakhir dengan berkendara ke Brooklyn Bridge dengan mengendarai kapal feri.

Apa jadinya kalau kita jadi seperti Adam? Sudah terlanjur sayang sama seseorang, sudah agak lama pacaran, ujung-ujungnya nggak tahu artinya putus atau apa pokoknya nggak ada kabar sama sekali.

Sebagian orang mungkin akan melakukan hal yang sama kayak yang Adam lakukan, cari pacar baru, menjalin hubungan baru, move on, beres. Dan lupakan pacar lama. Tapi ternyata si Adam ini nggak, lho. Sebenernya saya juga nggak kaget sih, kalo ternyata si Adam Wilde ini nggak bisa move on walaupun pacar barunya is so much hotter than Mia Hall (kalo saya sih bayanginnya gitu). Tapi tetep aja, walaupun si Adam ini nggak bisa move on—oke, buat sebagian orang, mungkin Adam ini terkesan cengeng, gembeng, dan sebagainya—tapi biar bagaimanapun, seri kedua ‘If I Stay’ ini bener-bener sweet, lho.

Oke, jadi itu pertama, cerita ‘Where She Went’ mau nggak mau saya harus akui bahwa ceritanya bener-bener sweet. Apalagi, ini dilihat dari sudut pandangnya Adam Wilde, seorang laki-laki. Penulis ambil cerita ini dari sudut pandangnya seorang cowok aja udah brilian, dan ini novel berbau-bau drama, dan roman. Satu-satunya novel drama yang saya baca yang ngambil dari sudut pandangnya seorang laki-laki itu ya cuma Olenka karyanya Budi Darma, itu pun udah tergolong sastra. Dan ‘Where She Went’ merupakan novel bergenre drama roman, yang ceritanya bener-bener bikin pembacanya terhanyut, dan diambil dari sudut pandang seorang laki-laki. Dan yah, secara nggak langsung, buku ini bisa jadi referensi buat para cewek dan perempuan yang ingin tahu isi kepalanya cowok yang baru aja putus setelah pacaran bertahun-tahun dengan seseorang.

Jadi, kalau dari saya pribadi, mungkin ambil cerita dari sudut pandang seorang cowok brilian, bisa tahu sedikit-sedikit sih emosinya Adam, gimana rasanya punya pacar kayak Mia, punya band yang sekarang udah digandrungi sama banyak orang—jujur loh, waktu diceritain kalo Adam banyak dikecam sama teman-teman dalam satu band-nya, rasanya juga ingin ikut nyanggah aja deh—trus kesedihannya Adam pas dia ketemu sama Mia dan malah main jujur-jujuran di kapal feri itu. Sejujurnya, saya malah nggak sedih pas ada di bagian itu, yang ada malah saya bingung. Maksudnya sih jengkel, gemas, geram, sama Mia, seperti itulah. Maksudku, Adam udah ada di depannya Mia, dan dia bahkan udah nunjukkin kalau ia masih sangat menginginkan Mia—setahu saya, cowok yang masih mengharapkan buat kembali ke ceweknya yang lama itu, semacam harus menelan harga dirinya mereka dulu, ya tapi kan ini ceritanya Adam dan Mia udah saling menyayangi banget-banget kali, ya—tak bisakah si Mia langsung bilang ‘oke, aku memaafkanmu’ dan mereka pun bisa kembali pacaran?

Sekilas, mungkin kalo kayak gitu, bakalan lebih bagus, tapiiiiiii kalo kayak gitu tentu bakalan nggak ada bagian pas Adam memainkan melodi dengan gitar Les Paul Junior-nya dan berkolaborasi dengan Mia yang tentu dengan lihai memainkan cello-nya. Lagipula, ada banyak cerita-cerita mesra yang tentu saja super-duper-sweet yang bakalan kelewatan kalau skenarionya jadi kayak yang saya sebutkan sebelumnya. Nah, jadi itu poin keduanya, penulis pinter banget muter-muterin pikirannya pembaca-pembacanya. Jadi, pertama dibikin gemas sebentar, trus ujung-ujungnya ditutup dengan cerita yang benar-benar bikin sirik.

Saya juga suka banget sama bagian-bagian pas Adam nyeritain kembali masa lalu-masa lalunya, entah waktu pertama kali ia bergabung dalam sebuah band, tentang keluarganya, tentang Mia juga, cerita pas mereka berdua pergi kemping itu favoritku. Oke, mungkin terlihat sedikit cabul buat sebagian orang, tapi jujur aja, bagian yang itu menurutku bagus banget. Sweet. So honest. And off course, bikin sirik.

Bahkan dari cover-nya saja, Anda bakalan tahu kalo buku ini akan menyajikan cerita-cerita yang benar-benar Anda inginkan untuk terjadi dalam kehidupan Anda dengan—entahlah—pasangan Anda, tentunya. Simple. Dominan hijau muda yang menentramkan hati, dan sebuah gitar yang kalo diliat-liat—dan ditambah dengan ilmu saya yang lebih banyak sotoy-nya—adalah gitar klasik, dan di mana-mana melodi-melodi yang dihasilkan oleh gitar klasik itu, benar-benar enjoyable.

So, enjoy :)


Judul : Setelah Dia Pergi (Where She Went)
Pengarang : Gayle Forman
Tahun Terbit : Oktober 2011
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Hal : 240 halaman
Kategori : Fiksi, Novel

“Segala yang dibangun di atas kebohongan tidak akan tahan lama.” —

Finding You ~ Marc Levy